Operasi Udara Diperluas, Tim SAR Berpacu dengan Cuaca Ekstrem Cari Korban Pesawat ATR 42-500

KABARSIMALUNGUN.COM | Operasi pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di wilayah pegunungan Sulawesi Selatan memasuki fase krusial pada hari ini, Selasa (20/1). Tim SAR gabungan terus mengintensifkan penggunaan helikopter untuk menjangkau lokasi reruntuhan yang berada di medan sangat ekstrem di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) siang saat menempuh rute dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat nahas ini mengangkut 11 orang, yang terdiri dari 8 awak pesawat dan 3 penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kendala Medan Vertikal dan Cuaca

Hingga Selasa pagi, fokus utama tim penyelamat adalah mengevakuasi korban dari titik jatuhnya pesawat yang berada di lereng selatan puncak Gunung Bulusaraung. Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa prioritas saat ini adalah memaksimalkan sarana udara karena jarak tempuh dari lokasi kejadian ke bandara relatif dekat, namun akses darat sangat sulit ditembus.

“Kondisi medan penemuan sangat menyulitkan. Lokasi puing berada pada dinding tebing batu dengan kemiringan ekstrem hingga 90 derajat atau vertikal,” ungkap laporan dari tim di lapangan. Selain medan yang tegak lurus, angin kencang dan kabut tebal yang kerap muncul tiba-tiba di wilayah pegunungan Maros-Pangkep menjadi tantangan besar bagi helikopter Karakal TNI AU dan unit udara lainnya dalam melakukan manuver evakuasi.

Update Penemuan Korban

Hingga saat ini, tim SAR gabungan telah berhasil menemukan dua jenazah korban. Korban pertama, seorang laki-laki, ditemukan di sebuah jurang pada hari Minggu (18/1). Sementara itu, pada Senin (19/1) siang, tim kembali menemukan jenazah kedua yang teridentifikasi berjenis kelamin perempuan di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung.

Kedua jenazah tersebut telah dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Tim SAR masih terus berupaya mencari 9 orang lainnya yang masih dinyatakan hilang di sekitar radius satu kilometer dari titik koordinat terakhir pesawat.

Pemeriksaan Kelayakan Pesawat

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan bahwa pesawat ATR 42-500 tersebut dalam kondisi laik terbang sebelum insiden terjadi. Data menunjukkan pesawat terakhir kali menjalani ramp check pada November 2025 dan pemeriksaan pemeliharaan rutin pada akhir Desember 2025.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kini telah mulai mengumpulkan data untuk menyelidiki penyebab pasti kecelakaan, dengan dugaan awal mengarah pada fenomena Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat yang laik terbang secara tidak sengaja menabrak medan atau rintangan.

Posko darurat (Crisis Center) tetap disiagakan di Terminal Keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin dan Desa Tompobulu untuk memberikan informasi terkini bagi keluarga korban yang terus menunggu kepastian. Tim SAR menegaskan akan terus melakukan pencarian hingga seluruh awak dan penumpang berhasil ditemukan.

175 Pembaca
error: Content is protected !!