Kabarsimalungun.com || BATU BARA — Dalam rangka mendukung gerakan nasional Asta Cita. Forkopimda Kabupaten Batu Bara melaksanakan penanaman cabai merah di atas lahan seluas 1 hektar di Desa Lubuk Cuik Kecamatan Lima Puluh Pesisir Kabupaten Batu Bara, Selasa (27/05/2025) sekira pukul 16.00 WIB.

Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian mengatakan dirinya akan membantu mempermudah permodalan petani cabai merah agar terlepas dari jerat rentenir.
Dikatakan Bahar pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Bank Sumut Capem Lima Puluh untuk membiayai kebutuhan penanaman cabai merah di Kabupaten Batu Bara.
“Saya ingin petani Kabupaten Batu Bara terlepas dari jerat rentenir,” ucapnya.

Bahar mencontohkan bila petani memiliki lahan seluas 10 rantai maka
Bank Sumut akan menyiapkan pembiayaan sebesar Rp30-35 juta ditambah biaya hidup sekitar Rp7,5 juta.
“Sedangkan jaminan pinjaman adalah surat tanah lahan atau surat sewa lahan. Dan untuk mengurangi risiko kerugian maka petani diikutkan dalam asuransi. Jadi petani tidak dirugikan,” jelas Bahar.
Diungkapkan Bahar, Kabupaten Batu Bara merupakan sentra produksi cabai merah terbesar kedua setelah Kabupaten Karo dengan luas lebih dari 1.200 hektar.

Dari luasan tersebut, lebih dari 800 hektar berada di Kecamatan Lima Puluh Pesisir. Desa Lubuk Cuik 580 hektare dan sisanya di Desa Perupuk dan Desa Gambus Laut. Selain itu juga ada tanaman cabai merah di beberapa desa di Kecamatan Air Putih.
Sedangkan tingkat produktifitas cabai di Batu Bara menurut data disebutkan Bahar mencapai 7,5-8 ton perhektar.
Meski begitu Bahar menginginkan produktifitas cabai lebih meningkat lagi. Karena itu Bahar memperkenalkan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan dan mendatangkan hasil lebih maksimal,pupuk organik NPK Biokimia MPOB F4 yang merupakan pupuk 3 in 1 perpaduan NPK, organik dan mikroorganisme.

Untuk membuktikan efektifitas penggunaan pupuk kimia yang selama ini dipergunakan dengan pupuk organik, Bahar menginstruksikan agar 10 rantai tanaman cabai menggunakan pupuk kimia dan 15 rantau lagi menggunakan pupuk organik.
“Nanti kita lihat hasilnya mana yang lebih menguntungkan,”pungkas H Baharuddin.[Martua]






























